Elita Sari Lubis

SELAMAT HARI IBU

December 22, 2009 · Leave a Comment

SELAMAT HARI IBU UNTUK UMAKKU TERCINTA DAN IBU-IBU SEDUNIA…

I LOVE U, MOM..

→ Leave a CommentCategories: Aktivitas

PASAR

December 20, 2009 · Leave a Comment

Seperti biasa, msh dlm waktu liburan di Sidimpuan nih, pagi2 bangun utk sholat Subuh, lalu maen laptop di teras sambil bljr nulis ala Texas IT consultant. Yeah, study in the morning. Huahuahua. Krn ini hr minggu jd byk org yg lewat depan rumah, tp g peduli ah, lanjut bljr aja. :D Remeber: No one cares in you! -by: Jack Canfield.

Malamnya sih ada trouble dikit dgn org2 di rmh, penyebabnya as usual “childish-in-me”, jd sarapan belakangan.  Hiks..hiks.. Lalu bolak-balik bljr Texas IT consultant in writing lagi. Selama bljr itulah, sprt biasa jg Nabila dtg, ikut2an gambar2 di bukunya. Jd posisinya aku bljr di meja ini:

my desk

…dan Nabila di sisi lainnya, haha… ikut2an dia, anak2 memang menggemaskan ya…

…adeknya jg lucu, pas ma2nya mau nyuci di kmr mandi, aku boyonglah Dinda diatas kereta bayinya, dan sambil liatin aku bljr dia berkata dgn bhs bayinya. Haha… Ini dia Dinda diatas kereta bayinya:

Dinda and Nabila (my cute cousin sisters)Dinda and Nabila (my cute cousin sisters)

Beranjak siang, aku nyuci baju di kmr mandi, jemur baju, dan Nabila ikut2an dia maen di bwh jemuran, memanfaatkan kesempatan dlm kesempitan. Jd ma2nya g bakalan komen kalo dia di bwh jemuran + matahari terik, karena ada aku disitu lagi jemur kain. Nabila main pecel2 gitu, permainan favoritku waktu SD ini. Haha… *jd rindu…

Siangnya aku ke pasar dan ke toko kain Uak, dan berhubung ayahku mau balek ke Kotanopan, jadilah kami makan sate di SATE PANJANG, yg plg terkenal se-Sidimpuan deh… Setelah makan sate, aku dan ayah ngomongin byk hal, ttg future plans of me, ttg interview (lagi) bbrp waktu lalu, dan byk hal, termasuk interview yg aku deny krn prtimbangan yg rasional. Hmmm ayahku memang hebat meskipun pendidikan akademisnya tdk tinggi, brillian itu memang bawaan, bukan? Dan satenya, sprt biasa…ENAK SEKALI…

Lalu pulang ke toko kain Uakku, menjaga sambil menunggu pembeli berdua dgn Etek Minah. Boring? Yah, betul. Tp itung2 bantu keluarga, dan berlatih belajar sabar dah. Selebihnya ya seneng aja liat duit 1 jt tiap hr di laci kas toko. Haha… kdg sih sepi pembeli jg. Mungkin aja nanti naluri pedagang bs melekat di diriku, haha…one step closer to be an entrepeneur. HOho… kidding, IT consultant is still the perfect job 4 me. Hi Bill Gates, Jobs, Torvalds, here i am. :D :D :D

pasar.../market

Sore jam 6 tutup, eh trnyt kelamaan tutupnya, dan kami plg dr pasar pas abis adzan Maghrib, ini sejarah baru. Pulang telat. Hoho. Gerobak martabak Bandung etc udah nangkring di depan toko textile Uakku, penjual makanan yg lain jg. Dan kita plg ke rumah dgn sambutan suka cita dari Nabila. Sepupu aku yg satu ini emang lucu dan menggemaskan, kdg nyebelin jg, hehe… Dan abis itu, stuck di warnet dan nulis blog ini. EMang sih nggak ekonomis nulis di warnet, tarifnya ttp jln wak, berhubung penangkal billingnya tak di-crack, haha… Kasihan jg kalo di-crack, mending maen bersih, ya nggak? Ni gmbr warnet deket rumah Uakku dmn aku menghabiskan waktu online, blogging, browsing, etc selama di Sidimpuan. Lemot, tp ya emang kayak gt kan kadar bandwidth di negara tercinta ini; khususnya warnet. Just enjoying life aja dah, sblm meninggalkan Sidimpuan.Ni foto warnetnya:

warnetnya yg dblkg becak

Hehe… Oh ya aku jg lg nunggu announcement dan berdo’a kpd Allah agar aku berhasil. AMiin…
Terakhir, aku udah mau off kayaknya, dan makan BAKSO… sendirian, hoho. Who cares? Haha… Enjoy your life too, friends… :)

→ Leave a CommentCategories: Aktivitas · Curhat
Tagged: , ,

The baby call my name as her 3rd word :)

December 19, 2009 · Leave a Comment

Yesterday, I had been schocked by my 7 months cousin sis named Dinda; when she saw me, she abruptly said: “I..ta…”. What? That’s the abbreviation of my name, my fams sometimes call me “Lita” and my little cousins also call me: “Kakak Lita” and oftenly “Kakak Ita”. So, my baby cousin sis called me with the last one, “I…ta..” Wow, it’s tremendously shocked me, and made me glad. I can’t describe how glad I was that moment. ‘Ita’ is the 3rd word she (my little cousin sis) said out blurly from her baby-mounth. The first… her mom: my auntie, which Dinda said: “Ma..ma..”, the 2nd one is “U..mak…” (‘k’ letter isn’t read fully). Umak is ‘mom’ in Mandailing language. The third is… “I..ta…”, that’s mine. Haha… It’s terribly unestimated, cause I lived at Medan and Dinda’s family lived at Sidimpuan so far. I didn’t meet Dinda oftenly, but in this long vacation I visit my Uak’s house, and because of Uak went to Macca, Dinda’s family lives on Uak’s house now. So, we live in the same house for almost 4 weeks –till today. So, it’s strange to hear Dinda called my name as her 3rd word. She knew me just recently, but she memoried my name. Haha.. Cool… To be honest, I felt so ‘wow’ when she calle my name although it’s not perfect pronouncing. :)

Dinda or sometimes I call him "Baklah", heheheDinda (the baby) or sometimes I call her “Baklah”, haha… there’s a secret why the word “Baklah” is so funny for our family, hahaha… :D

By the way, I’m still so curious to see how a baby can say anything for the first time. How’s the process happening in their ‘CPU’? Or they use ‘intutition’? I certainly need to open uncle Google to break this curiousity. :D But, because I’m a simple one, I will say: “This is another miracle from God.” It makes me more believe in the Great of Allah. Also in any odds thing in this life: the rotation of earth, the morning changes the night, or the birth of a baby instead. It needs knowledge and makes curiousity of human to search ‘how’, ‘why’, or ‘what’ within those things. It’s good, because of that, scientists can explain us how something happens, like a rotation of earth which produces knowledge called anstronomy. With the ‘odds things also, Sir Isaac Newton found a secret of gravitation force of earth, Galileo got information about anstronomy of planets, even Bill Gates could write word which caused machine could operate under human’s wanting. Cool…rite? So, as human if we’re very curious we will try to find reasons behind it all, but we better make it all to be an energy which make us believe in God more, not the other hand. That’s all, I don’t wanna tell someone to have religion, cause everyone has a right to choose everything; including religion. On the other hand, I respect to all of people choice, and this posting maybe is just for me privately. Haha… I love people, I love peace, I love you all… :)

Oh ya, I almost forget something. This morning, it’s about 5.00 am when I was still lazy to wake up from bed, I heard again Dinda called my name. Her mom put Dinda beside me on the bed, cause this cute baby always wake up faster than adzan Subuh. Hehe. Dinda maybe looked at me whom still laid, so she suddenly outed a voice: “I…ta…” Her mom laughed, and she said: “Wow, you called name of Kakak Lita.” Again, I was shocked, but I was glad too. Lov ya, Dinda… Wish me all the best, wkwkwk… it must be “I wish u all the best”. Hahaha…

→ Leave a CommentCategories: Curhat · My Family
Tagged:

ANTENA OMNI

December 19, 2009 · Leave a Comment

Tiba-tiba aja pengen nulis s/t ttg IT/Computer Networking: jurusanku semasa di SMK. Emang sih kedengarannya keren “Computer Networking”, tapi tantangannya minta ampun susahnya. Jangan pernah harap bakalan ada guru yang mengajari anda ttg apapun itu ilmu komputer atau jaringan. Anda belajar sendiri. Guru kebanyakan hanya memberi tugas: kurang lebih seperti kuliah. Kalau mau ilmu baru ya harus search sendiri… Kalau anda cewek, bersiap-siaplah, karena ada kemungkinan manjat tower yang tingginya selevel dengan gedung 3 lantai atau lebih. Bayangin dah… Tapi bangga jg lah sebagai mantan siswa TKJ (Teknik Komputer Jaringan).

Kali ini saya pengen nulis ttg ilmu langka dan disukai orang-orang IT kreatif dan punya dana terbatas. Ilmu ini saya dapatkan dan langsung praktek waktu magang di ICT Centre DKI Jakarta atau WAN (Wide Are Network) DKI. Waktu itu semua juga masih seperti yang saya paparkan, susaaah bgt nyari ilmu dan nanya ke orang-orang di WAN, karena mereka pada sibuk semua. Luckily, aku nanya-nanya terus ke Ka Engkos (salah satu staf networking support di WAN) untuk share ilmu baru, dan hari itu Ka Engkos MAU. Syaratnya, harus di-share jg sama anak2 di Medan, gitu katanya.

Aku dan Ka Andry (Bandung) segera nyari pipa kapiler, solder, timah (gunanya untuk merekatkan  ujung pipa kapiler yang satu dengan yang lainnya), serta beberapa.

Waktu itu aku nanya banyak hal ke Ka Andry, padahal dia bukan siswa SMK yg jurusan Comp. Networking, Ka Andry jurusan Elektronika. Jadi masalah solder-menyolder udah biasa lah. He explained patiently, haha… thanks Ka Andry.

Setelah semua peralatan terkumpul, anak2 magang: aku, Ka Andry, Ka Eru, dan Ka Eni (Banten), (Juanta/Edwin ikut nggak ya? Lupa, hehe…), Ka Engkos nyuruh Ka Andry dan Ka Eru untuk ngajarin aku dan Ka Eni. Jadilah kami praktek bareng-bareng. Di bawah ini ringkasan ttg Antena Omni dan cara merakitnya hingga menjadi antena ampuh yang murah meriah.

ini pipa kapiler yg udah disolder (hati2 ketika anda menyolder!)

Alat-alatnya:

*1m kabel RG
* N konektor, Female atau Male tergantung utk apa fungsi antena omni nantinya. Oh ya, ukuran diameter 10mm utk kabel RG  (jgn sampe salah)
* ukuran 20mm pipa paralon (tersedia dari semua toko diy) Mempunyai diameter dalam 20mm, dan 22mm luar.
* ukuran 22mm pipa kapiler
Ingat tuh ukuran jgn sampe salah…
Dan…

* Ruler alias rol utk mengukur panjang pipa paralon nanti
* Gergaji besi
* Pisau
* Tang
* S older dan timah
* Bangku untuk menahan kabel saat kita memotongnya, lantai jg boleh kok jd tumpuannya :P

motong pipa paralon (butuh tumpuan, butuh kekuatan fisik jg)

Cara pembuatannya:

*Potong Pipa Kapiler, lalu  kupas kabel RG

*Potong plat tembaga, lalu solder pipa kapiler dgn plat tembaga sbgai penyambung per pipa kapilernya. Tipsnya, gunakan timah selain utk merekatkan, jg untuk pemancing solderan

Kalau ingin memasangnya secara langsung dgn antena, silakan lakukan langkah berikut ini:

*Sambungkan dengan N Connector

*Sambungkan dengan antena dan pasang. Catch up signal whatever the hinder, whatever the signal frequence, key! Cool, rite?

Oh ya, antena Omni yg kami buat bersama dgn teman2 magang (dgn canda tawa dan gurauan) berhasil, dan dipasang di Sophie Martin daerah Jakarta Timur kalo g salah. Keren kan, so our result is EXCELLENT. Nah, coba dong! Key… :D

Oh ya, ternyata menyolder tuh susah pas awalnya. Parno jg setelah Ka Andry cerita kalo temannya yg bernama Mukti pernah melepuh tangannya kena solder panas. Huuuuu…takut! Tapi setelah ngeliatin mereka nyoba satu per satu, eh malah pengen nyoba. Hmm… sedikit rumit pada awalnya, nyambung ujung pipa kapiler ke ujung yg lainnya SUSAH. Seumur hidup baru kali itu dah aku mengang solder dan menyolder. Ternyata, selain utk merekatkan per pipa kapiler, timah jg berfungsi untuk memancing solder agar segera bereaksi merekatkan per pipa kapiler (source: Ka Andry). Anak-anak elektronika jago deh disini, dan mereka juga udah berkali2 nyobain merakit antena omni ternyata. Well, ditengah-tengah pembuatan antena, yang lain ikut gabung, ada Kak Sole & Kak Aang (Rangkasbitung, Banten), etc. Finally, YIAY… berhasil… Tapi keburu bosen sih di tengah-tengah proses pembuatan, karena harus hati-hati menyolder, jarak per kapiler kan ada rumus perhitungannya jg. Jadi, salah-salah jarak, yakinlah itu antena kagak bakalan bisa nangkap sinyal internet dr antena di tower. Ni perhitungannya…

V * C 0,66 * 299792458
1 / 2 wavelength = —— = —————- = 0.0405m = 40.5mm
2 * F 2 * 2441000000

V = Faktor Kecepatan dari  RG213 = 0,66
C = kecepatan cahaya = 299792458
F = Frekuensi Sinyal= 2441000000 ( yg py kisaran sinyal 2.4GHz)

SELAMAT MENCOBA, kalau ada pertanyaan silakan tanya sama kang Onno W. Purbo, hehe… Videonya jg ada kok, tgl search di YouTube. :) Good luck..

Keren kan? Makanya anda harus masuk jurusan TKJ, dan belajar bersama teman-teman. Pasti seru, siapa suruh lu jd anak SMA yg harus bljr Biologi, Geografi, Sosiologi, Antropologi, dan ilmu-ilmu betebaran lainnya yang g bakalan anda gunakan di kehidupan nyata nantinya (*kidding, :D ).  Eh tp buat anak-anak SMA yg sukses di Olimpiade Sains or Computer tgkt dunia, aku angkat topi deh. Saluut!!! :)

Sepanjang perakitan antena omni ini, aku rencanya mau bikin tutorial (setiap anak magang harus bikin tuturial ttg ilmu IT langka kalau ingin mendapatkan sertifikat). Jadilah kami minjem kamera KS (abbrev. Ka Sindu, the boss of WAN-DKI), dan dikasih. Kameranya tuh Nikon yg profesional, dan tipenya aku udah lupa. Hehe… Berhubung Nikon byk bgt tombolnya, terakhir kami foto-foto narsis, eh malah nggak ke-save deh kayaknya. Nasib..nasib.. Haha.. jujur aja itu kamera profesional pertama berlensa puluhan senti yg aku pegang. Semua yg udah difoto amblas alias raib entah siapa yg delete-in. Hoho… Nasib… :( Terakhir aku bernasib sama sprt anak magang lainnya, g dpt sertifikat. Sedihnya, tp gpp lah, pengalaman g bs dituker sama selembar kertas bukan?

Oh ya sprt yg aku blg, jursan TKJ tuh susah bgt, harus cari sendiri, dan enaknya sih kalau ada kawan. Berhubung aku dan teman-teman dari seluruh Indonesia yg magang di WAN-DKI tahun 2007 kompak-kompak, kami belajar bareng, menderita bareng (it’s the hard word), dan berbahagia bareng (jadi rindu kawan2 magang nih! Hiks). Kalau kita belajar dan praktek bareng jadinya seru, sama seperti pas bikin antena omni, harusnya serius eh malah jadi becanda2, motoin objek2 yg kt pengen, dan melucu. Wahaha, udara Jakarta yg panas kaga terasa dah. Haha… Gara2 bikin postingan ini, aku jd rindu sama teman-teman magang di WAN-DKI thn 2007. Kak Eni (dimanakah dirimu skrg, udah lost contact nih), Ka Andry & Ka Eru (urang Bandung), Ka Teguh (anak Jakarte), Ka Sole, Ka Dedek & Ka Aang (Rangkasbitung,Banten tea), Juanta & Edwin (yg dua org terakhir ini teman sekelas di Medan, udah lama tak bersua jg, haha)- ini angkatan bln pertama. Yg bulan kedua adalah: Kak Masdah, Kak Siti, Ka Aldi, Ka Triman, Ka Arif, Kak Qoi & Kak Nuy (mereka anak magang MIS, tp selalu bareng sama anak WAN). Ada jg angkatan bln ke-3: Arie Ambon, Harley (Davidson, haha), dan Ka Angga (ini pendiam bgt orangnya, kumaha atuh kak? Hehe). Yah entar lagi deh nulis postingan ttg anak magang dan peristiwa2 kala magang di Jakarta thn 2007. Aku menemukan arti persahabatan dgn org2 dari provinsi, suku, dan agama lain se-Indonesia, mereka baik2 dan ramah2. Tapi jujur aja, selain teman2, selebihnya bikin sedih, tp kesininya aku menyadari bahwa itu pelajaran hidup yg plg berarti seumur hidupku, dan aku menyadari bahwa: HIDUP ITU KERAS. TIDAK ADA YANG PEDULI PADA ANDA/SAYA, SO WHAT DO YOU GONNA DO?

→ Leave a CommentCategories: Experience · IT (Information Technology)
Tagged: , ,

SANG PEMIMPI

December 17, 2009 · Leave a Comment

Iseng buka acara musik  di TV, tiba-tiba sudah ada para pemain film Sang Pemimpi beserta produser (Mira Lesmana), sutradara (Riri Riza), dan creator novelnya: Andrea Hirata. Film Sang Pemimpi diangkat dari novel berjudul sama karya Andrea Hirata. Dalam rangka premier film ini, tadi diperlihatkan juga cuplikan film Sang Pemimpi, dan kata-kata yang selalu membangkitkan emosi beragam buatku, muncul juga. Sama seperti di novelnya, Arai (salah satu tokoh sentral, sahabat sekaligus sepupu jauh Ikal) selalu menjadi pengobar semangat Ikal berucap kurang lebih seperti ini:

“Tanpa mimpi, orang miskin seperti kita ini akan mati.”

Kata-kata mutiara paling membius untuk orang-orang yang tidak berasal dari keturunan kaya raya dan konglomerat -seperti saya. Jujur saja, setiap mendengar atau membaca “kata-kata mengandung bius” dari Arai ini, perasaan saya selalu bercampur aduk, antara lain: semangat berkobar di dalam diri, rasa marah atas sistem ketidakadilan ekonomi di Republik ini, rasa dendam kepada koruptor b*ng$@* yang bersuka ria di atas penderitaan jutaan rakyat miskin di Indonesia, dan rasa ingin menyentil anak-anak orang kaya di Republik ini yang hanya perlu “belajar” tanpa perlu memikirkan “banting tulang” untuk mendapatkan sebuah pendidikan yang layak. Sangat kontras dengan mayoritas anak-anak Indonesia lainnya yang harus berpikir keras untuk sekadar mencari akal bagaimana caranya mendapatkan secuil pendidikan tinggi, dan hanya dengan “mimpi” itu semua dimulai. Modal “mimpi, nekad, usaha mati-matian untuk meraih mimpi, dan berdo’a kepada Allah Sang Maha Adil”. Hanya itu. Tapi percayalah bahwa kekuatan tersebut lebih ampuh dari “money strenght”.

Akhir kata, saya ingin mengatakan: “BRAVO untuk sekuel kedua Laskar Pelangi: Sang Pemimpi.” Film ini sangat layak ditonton, khususnya untuk kita anak-anak Indonesia yang punya cita-cita tinggi, tetapi terhambat dana. SEMANGAT, KAWAN-KAWAN! :) Don’t be afraid to dreaming, karena Allah akan memeluk mimpi-mimpi kita (another proverb of Andrea Hirata).

UNEG-UNEG UNTUK DUNIA PERFILMAN INDONESIA

Untuk para sineas di perfilman Indonesia, tolong dong yang diangkat ke layar lebar film-film yang berkualitas semacam Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, dan Naga Bonar! Kami tidak butuh film-film horor yang berbau pornografi. Kami juga tidak butuh film komedi romantis sialan seperti yang beredar di bioskop-bioskop seperti sekarang ini. KAMI TIDAK BUTUH. Rakyat Indonesia butuh film bermutu yang mencerminkan kepribadian Indonesia, dan membangkitkan semangat hidup. Para sutradara film-film Indonesia, dengarkan suara kami!!!! Stop film semacam: Kuntilanak Beranak Tuyul, Janda 3 Bulan, dll… TIDAK MENDIDIK DAN MERUSAK MORAL BANGSA.

MY OPINION ‘BOUT ANDREA HIRATA

Andrea Hirata adalah satu dari sedikit sastrawan Indonesia era 2000-an yang tidak “edan”. Lihat saja buku-buku atau novel-novel yang beredar sekarang ini. Ada teenlit yang berkisah tentang percintaan remaja (melulu). Selain itu, berkisah tentang pria/wanita dengan kehidupan menyimpang, dan melulu percintaan lagi. Muak. Ya, muak saya dengan tema-tema “melulu” tersebut. Dan di tengah-tengah perasaan muak tersebut, Andrea Hirata muncul dengan karya yang jujur, tidak ditutup-tutupi, dan mencerminkan keadaan rakyat Indonesia (mayoritas) saat ini: yaitu bergumul dengan kemiskinan dan berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi serta pendidikan. Tetralogi Laskar Pelangi adalah novel pembangkit semangat untuk wong cilik –seperti saya, dan contoh dari sastra Indonesia ‘bermutu’ di era 2000-an ini. Bravo untuk Andrea Hirata, hidup dunia sastra Indonesia! Kita membutuhkan Andrea-Andrea yang lain untuk membangkitkan kembali sastra Indonesia yang sedang terpuruk dalam tema “percintaan remaja” yang kosong makna. We are waiting for the next Andrea… Would you join him? I would… :)

→ Leave a CommentCategories: Curhat · NONTON
Tagged:

Jakarta: Day 1-2 (TOEFL & Interview)

December 16, 2009 · Leave a Comment

~~10 Desember 2009~~

Jam 3 lebih sedikit aku bangun tidur, langsung ambil wudhu, qiyamul lail, minum setengah gelas untuk bekal puasa nantinya, barulah tidur sebentar lagi. Jam 4 lebih bangun lagi, langsung ke kamar mandi, ambil wudhu dengan warm water, lalu sholat Subuh. Lalu tidur lagi hingga jam 6 pagi. Karena di Jakarta suasana jam 6 pagi sama dengan jam 7 pagi di Medan, maka langsung saja aku mandi, berpakaian, dan kembali ke kursi pinggir jendela hotel. Hmm… dari kejauhan nampaklah hotel Formula, gedung tanpa nama yang baru dipugar dan sedang dibangun kembali, serta jalanan Jakarta Pusat yang mulai ramai jam 7 pagi. Tak lama kemudian, bang Zulham nelpon dan bilang kami agar segera bersiap menuju lantai dasar untuk sarapan. Kak Christine bangun, dan langsung mandi dan kemudian berpakaian.

Kami menuju lantai dasar, dan karena aku puasa, langsung ke lobi dan yup… I found free-charge internet connection di salah satu PC yang disediakan pihak hotel. Hore… hore… Ternyata PC-nya masih dikunci, kemudian salah satu petugas lobi hotel mengambil kunci dan terbukalah keyboard+mouse. Saatnya browsing ria (gratis). Haha… Kak Christine, bang Zulham, bang Yuri, dan kandidat lainnya yang lolos untuk sesi interview ini masih sarapan di breakfast room, dan aku browsing-browsing saja. Buka kompas.com, people.com (nggak lama loadingnya, tapi seperti biasa beritanya ttg artis di hampir semua home page-nya), lalu facebook (seperti biasa, Oshin selalu online pagi-pagi, jangan’’ kecanduan online lagi nih dia. Haha… peace buk Oshin), dan update isi blog. Berhubung pikiran nggak fokus lagi mau nyeritain kejadian tadi malam, jadilah isi blog yang singkat saja.

Oh ya, sesuai saran orang” yang dituakan di kampungku, jadilah aku pakai stelan jas hitam dan celana hitam, dan jilbab warna cream. Yah, seperti dugaanku hanya diriku seorang yang berjas ria, peserta lain dari Aceh-NTB/NTT memakai baju santai. Akh… ini nih gara-gara nggak percaya sama intuisi sendiri. Hiks… Jadilah aku sendiri yang pake baju super resmi, tapi apa boleh buat? ½ dari orang Jakarta kan sudah memegang falsafah: “mind your own business”, jadi yakinlah tak akan dipertanyakan tentang perbedaan atau sesuatu yang minoritas dari seseorang. Cool… Haha :D

Karena TOEFL-ITP exams dimulai jam 9.00 WIB, maka kami berempat memutuskan untuk nyantai dulu di lobi. Aku masih browsing, sedangkan yang lainnya duduk-duduk santai di kursi-kursi yang bertebaran di lobi hotel. Sepertinya memang hotel ini mirip orang Arab, karena di keyboard ada juga penanda huruf Arab, lalu di kamar juga ada caution yang trilingual: Indonesia, English, dan Arabic. Bacaannya: “Dilarang membawa wanita/pria yang bukan istri ke kamar.” Wah, keren kan? Harusnya semua hotel di Indonesia memasang plat seperti ini. Ya nggak?

Setelah bosan bercengerama, akhirnya kami (4 orang kandidat dari Medan) keluar hotel dan menyetop taxi, kali ini yang ada bacaan “tarif bawah”-nya, aku duduk di depan. Sepanjang jalan seperti biasa (macet), dan karena kami tidak tahu mana gedung tempat ujian, supir taxi kelewatan. Barulah akhirnya kami mencocok-cocokkan lokasi dengan alamat di official letter, dan menelepon kandidat lain yang sudah tiba di tempat ujian. Akhirnya kami sampai di gedung tersebut dengan selamat. Fiuh… Di luar gedung sudah bergabung kandidat lain dari seluruh Indonesia, dan berkenalan sebentar, hingga akhirnya naik ke lantai 6 (tempat wawanara). Wah… di papan pengumuman ditempeli universitas-universitas beken dunia, sinopsis, dan cara apply ke universitas tersebut, ada juga beberapa beasiswa yang ditawarkan (semuanya untuk program S2). Negara penyelenggara full-scholarship chance ini memang kaya sekali. Jadilah kami masuk ke library dan membaca-baca sejarah negara mereka, universitas disana, dan setiap prov/negara bagian disana.

Tak lama kemudian datanglah panggilan, dan ½ dari kami masuk ke ruang tes TOEFL (termasuk aku), serta ½ lagi menunggu giliran wawancara. Jumlah kami semua kurang lebih 83 orang (dari seluruh provinsi di Indonesia). Pembukaan dari pengawas ujian TOEFL sekaligus pegawai disitu, hingga akhirnya sesi listening hendak dimulai. Ada kejadian lucu, disaat semuanya mulai berkonsentrasi, bang Zulham memperkenalkan diri dengan kandidat cewek disampingnya. Alhasil, kami tertawa geli.

And finally… listening, structure, reading… Finish. Menurutku, ini tidak lebih tinggi dari skor 563 yang pernah kuraih di TOEFL sebelumnya. Hmm… sedikit nervous sih,mudah-mudahan ttp melebihi standar lah, amiin…

Setelah tes TOEFL yang kira-kira 2,5 jam, akhirnya kita bubar, dan aku segera berjalan jauh banget ke Halte Busway Budiutomo, sedikit capek sih (karena puasa kali ya…), lalu naik busway, turun di halte Mangga Dua. Wah, suer… di busway penuh sesak manusia-manusia, panas… meskipun pake AC. Turun di Mangga Dua seperti rencana sebelumnya: membeli kamera digital mini yang ukurannya segede flash disk. Sia*nya Mangga Dua tuh sekarang udah agak banyak toko yang tutup. Dulu terakhir kali kesini, tahun 2007 tuh semua masih agak padat, sekarang beuh… udah campur-campur dagangannya. Seluruh Mangga Dua tuh aku jelajahi sampe pegel kaki ini. Soalnya pake sepatu dan kaos kaki sih (baju dan sepatu masih sama waktu tes TOEFL tadi), dan di sela-sela kaki yang pegal masih tetap bersemangat juga. Akhirnya, yang ditemukan malah penjual kamera yang bohong, seperti biasa harga 1 juta 200 ribu dia tawarkan dengan harga 2 juta. Cape deh… Lagipula aku kan mau cari mini-cam yang segede flash disk. Akhirnya aku sholat di mushola Mangga Dua, dan menuju kamar mandi lagi untuk ganti baju, sepatunya tetep, karena kelupaan bawa sendal di tas ransel. Masih tetap bersemangat aku cari lagi tempat jual kamera, terakhir mentok di tempat jual ponsel. Wah, penjual ponselnya juga penipu, dia tawarkan harga 1 jutaan dengan harga 2 juta. Biasa aja dong, buk… Mending beli di Medan kalau gitu. Terakhir aku beli pesanan bang Yuri: baju yang ada print-an Jakarta Tempo Doeloe-nya. Dan penjual baju adalah URANG SUNDA TEA. Haha… harga satu kaos katanya 25ribu, tapi aku tawar 40ribu untuk dua buah kaos. Dan, berhasil… Cuma itu sih, kamera digital mini-nya nggak ketemu, yang ada kaki pegel, dan kaos 2… Nasib…nasib… Bayangkanlah seluas apa Mangga Dua Square dan JITec yang aku telusuri itu, 2 kali Sun Plaza di Medan. Huhu…Sekali lagi kalau mau ke Mangga Dua, jangan pake sepatu, pakailah sendal jepit, dan… kayaknya Mangga Dua udah nggak se-lengkap dulu lagi…

Rencana kedua akhirnya dijalankan juga, aku nunggu busway jurusan terakhir alias tujuan Ancol, dan busway yang ini nggak rame, jadi bisa duduk. Oh ya, sekarang busway udah nggak ada suara cewek dari loudspeaker yang kayak gini: “Next Stop, Pademangan shelter, please check your belonging and stop carefully. Thank you.” Udah kaga ada lagi. Yang ada tuh petugas cowok yang penjaga pintu busway ngomong gini: “Persiapan untuk halte Pademangan…” dengan nada terpaksa. Wah… kelelahan kali ya abang2 doorman busway ini, dari Kampung Melayu ke Ancol 4 kali bolak-balik, coba? Hmm… salut deh buat abang2 doorman ini.

Sampai di Ancol kira-kira jam 2 siang, dimana matahari Jakarta sedang ganas-ganasnya berpijar, dan kayaknya kepalaku udah sedikit tak sadarkan diri. Nasib…nasib…beginilah kalau puasa dan jalan-jalan di tempat terbuka di Jakarta: seperti baru dipukul pentungan hansip nih kepala rasanya. Tapi tetep SEMANGAT. Kaki udah pegel hasil keliling Mangga Dua dan JITec, sekarang harus jalan dari halte busway Ancol ke Dufan. Dan… alamak, ternyata yang antri tiket masuk Dufan itu sama seperti hari Minggu. Ada apa gerangan? O alah, ternyata ada diskon 50%, pantesan orang Jakarta berlarian ke Dufan, ada banyak anak sekolah yang masih pakai seragam di antara deretan antrian tersebut. Wah… sungguh terlalu… Dan akhirnya, aku cuma bayar 45 ribu, dan jalan ke pintu masuk Dufan dengan kepala pening dan kaki pegel. Setelah distempel, akhirnya… Dufan… penuh sesak manusia, padahal ini hari Kamis. Tidaaak… untuk antrian wahana Poci-Poci saja butuh waktu ¼ jam, sungguh terlalu… Nggak mau rugi, akhirnya aku nyoba Poci-Poci dengan 2 anak Jakarta yang masih SMP. Eh nggak seru yah, kata mereka. Emang kagak. Masa diputar-putar doang, 10 menit udahan. Wah, mending muter kepala sendiri dah…

Akhirnya aku keliling per wanana juga. Dan malang nian, Roller Coaster DITUTUP, SEDANG DALAM MASA PERBAIKAN. OMG, padahal itu wahana yg aku nanti-nantikan. Hiks… Terakhir menuju wahana Kora-Kora, Ontang-Anting, dan semua antriannya panjaaaaaaang banget. Nasib… Tornado, sama juga. Akhirnya aku masuk ke antrean Tornado yang sangat panjaaaaaaaang. Mungkin aku bakalan dapat giliran ke-30. Cewek disampingku tuh minum-minum aja kerjanya, sama seperti yang lainnya. Memang Jakarta nggak usah dideskripsikan lagi panasnya yang naudzubillah. Karena aku lagi puasa, tentu minuman sangat menggirukan. Berulangkali aku bersabda (cie elah): Nggak bakalan ada yang mempengaruhiku. Aku nggak akan tergoda. ½ jam sudah di antrian ini, yang dapet malah suara teriakan orang-orang yang naik Tornado, orang-orang yang minum air es di antrian, dan rasa haus. Wkkkk… akhirnya iman tak cukup kuat juga, aku keluar dari antrian, dan aku cuma pengen satu: BALIK KE HOTEL DAN TIDUR. Aku duduk sebentar di arena penonton Wolverine yang lagi off show-nya (mungkin baru buka hari Minggu kali). Setelah telapak kaki yang rasanya dijepit sama besi 20 kilo sedikit rileks, aku jalan lagi menuju pintu keluar. Perjalanan yang melelahkan rasanya. Haus, kaki kejepit sepatu, kepala berkunang-kunang, itulah yang kurasakan. Menyumpah2i diri mengapa tadi harus ke Dufan? Mengapa? Mengapa? Akhirnya, aku lihat taxi Dufan yg Blue Bird punya. Masih jauh taxi-nya. Aku berjalan terseok-seok, ampun dah penderitaan kala itu. Dan sampai juga, ups ternyata salah taxi. Aku disuruh ke taxi paling depan, terakhir dimintai alamat dan data diri (untuk keamanan) dan taxi pun mulai melaju. Akh…nyamannya… AC dinyalakan, dan sepatu langsung kulepas. Gile… jari-jariku lecet semua dijepit sepatu. Huhu…sakit… kepala berkunang-kunang, langsung lah aku nyoba untuk tidur tanpa mempedulikan supir taxi. Emang nggak bisa tidur sih. Macet disana sini. Dan tebaklah, argo berputar terus. Tapi aku ora peduli lah, udah capek banget nih fisik dan perasaan. Huhu… akhirnya sepanjang jalan ada kali ya 2 jam-an dari Ancol ke Cikini, supir taxi cuma membicarakan masalah demo antikorupsi itu. Katanya, negara kita mah susah diharapin mau maju, demo dimanapun tetep aja yang kaya makin kaya, yang miskin jadi fakir. Hmm… bener ya?

Di tengah-tengah rasa ngantuk yang mendera, taxi memasuki wilayah Stasiun Gambir, dan… supir taxi ngomong gini: “Wah ada syuting lagi nih.” Aku melongok ke jendela taxi, dan… tada… lampu sorot sebesar TV tabung lebih dari 10 biji diletakkan di pinggir jalan, ditambah lagi lampu sorot dari atas yang dipegang kameramen. Ternyata benar: ada syuting, dan kerumunan orang pun segera menunjukkan gejala bahwa ada artis terkenal yang syuting di Stasiun Gambir. WoW, beberapa menit kemudian aku menangkap raut wajah FEDI NURIL. Wah, putih bener tuh muka Fedi Nuril, dibedaki habis-habisan kali yak, atau gara-gara efek lampu sorot? Haha, ketauan dah kalo ane jarang ketemu artis, wkwkwk…

Beberapa menit kemudian sudah sampai hotel Alia, kira-kira jam 16.30 WIB. Ongkos taxi-nya 60 ribu, udah gak peduli lagi dah, langsung masuk hotel, dan naik ke lantai 6, masuk ke kamar, dan setelah melepas sepatu yang menyiksa itu akhirnya aku tidur dengan selamat, kak Christine juga melanjutkan tidurnya. Huh… AC thanx…  Pas bangun jam 6 sore, alhamdulillah udah Maghrib… Langsung dah menuju dispenser dan minum aer putih sepuasnya. Puasa di Jakarta memang penuh tantangan. Panasnya itu loh… Tapi alhamdulillah selesai sudah puasa satu hari di hari kesatu di Jakarta. :)

Abis buka, langsung aku mau nyari makan malam di daerah sekitar hotel, nyampe lobi ketemu bang Yuri dan bang Zulham (dari Medan jg) yang baru aja selesai renang di hotel. Cie… ngeri ya bang, langsung maen renang aja. Haha… Aku langsung nyari tempat makan, dan terakhir makan soto daging+nasi putih+kerupuk putih2 itu yg byk di warung2 Jakarta+the manis panas. Abis itu mau makan roti bakar lagi, unfortunately kaga ada rasa coklat, jadi batal. Nggak tau deh, akhir2 ini nafsu makanku lagi gila-gilanya. Huahuahua… *sad mode on harusnya. :D Tanpa perencanaan yang jelas, aku jalan-jalan ampe masuk daerah TIM (Taman Ismail Marzuki) yang letaknya memang persis di depan hotel Alia @ Cikini, Jakpus. Kayaknya ada pertunjukan gitu, yang pasti rame bgt tuh parkiran dan food stall di sekitar TIM. Aku langsung ke bioskop TIM dan beli tiket New Moon, kata si Juanta yg udah nonton sih film lanjutan dari Twilight ini nggak seru2 amat. Tapi, ya udahlah, aku beli aja. Tiket yang tersisa cuma yg jam 8 malem ke atas, padahal saat mesan tiket masih jam 7 malam. Akhirnya kubeli juga tiket itu, dan… ternyata harga tiket bioskop TIM 21-nya hanya 10 ribu Rupiah. Wah, beruntung, beruntung. Huahuahua… Pantesan TIM 21 rame, murah kaya gini pula tiketnya. Di bioskop 21 Sun Plaza sekarang udah 30 ribu, Palladium juga 30 ribu, dan di Mall Blok M tahun 2007 aja udah 25 ribu. Murah bgt ya TIM 21. Cayoo… TIM. :D Daripada bosen nungguin, aku nyari-nyari mushola aja, ternyata di belakang TIM adalah IKJ alias Institut Kesenian Jakarta; tempatnya para mahasiswa seniman ini. Sepanjang perjalanan menuju mushola IKJ, ada mahasiswa yang latihan pementasan, ada yang manjat-manjat pake tali setinggi 5 meter (cewek dan cowok), serta latihan musik lainnya. Anak IKJ yang lain pada nonton di sekitar bangku penonton yg di-desain mirip tempat duduk penonton sepak bola di stadion. Malam-malam masih asyik latihan, seru juga. Hmm… pas sholat ada kejadian lucu, kipas angin yang tepat di atasku berputar terlalu kencang sehingga telekung parasut yang aku pake terbang ke arah kepala semuanya. Nasib… ngulang lagi dah sholatnya. Huhu…

After that, ngelewatin anak2 IKJ yg masih latihan pementasan plus manjat-manjat juga, barulah sampe di 21 TIM. Orang-orang udah nambah yang nunggu giliran nonton. Ada juga 4 orang bule yang mungkin baru aja selesai nonton pementasan drama di TIM. Maybe… Di sampingku duduk sepasang suami istri dan anaknya (cowok) yang lagi nunggu giliran nonton juga. Fiuh, ngelatih topik-topik yang kemungkinan akan dibahas pada interview besoknya aja dah. Sambil diliatin sama anak kecil itu, jadilah aku latihan sendiri, ngomong sendiri. Hmm… besoknya memang interview, dan dari jauh jauh hari sudah dipersiapkan sih kemungkinan pertanyaan yang akan datang, seperti: rencana hidup 5 tahun ke depan, inspiration, what do I wanna share with my culture, my job experiences and education background, dan lain lain. Macem-macem lah. Akhirnya, hampir jam 8, aku langsung beli ice cappucino khas bioskop 21 dan satu porsi kecil popcorn karamel. Entah kenapa aku suka sekali iced-cappucino 21, ada yang tahu nggak resepnya apa? Pokoknya kalo ditanya minuman favoritku apa sekarang ini, tentu saja iced-cappucino 21 cineplex. Mantappp…. Setelah masuk ke bioskop, ternyata deretan bangku penontonnya kayak di Thamrin 21 aja. Pembukaannya agak lama, dan… New Moon pun dimulai. Tidak salah lagi, Juanta benar2 BENAR. New Moon nggak seru…. Kok jadi gini sih sekuel Twilight ini??? Kebanyakan adegan nggak penting ttg si Bella-nya.

But, it’s okay lah. Pulang dari TIM aku beli kacang rebus (salah satu makanan favoritku nih, haha), lalu masuk ke hotel Alia dan naik ke lantai 6. Eh ternyata rekan2 yang dari Medan udah nyariin aku tuh, seperti biasa aku nggak bawa handphone, jadinya mereka nelpon aku eh… yang ada malah hp-nya bunyi sendiri di dekat mereka. Haha, sorry friends… Itu emang kebiasaanku: Males bw hp. Well, kami ngumpul di kamar anak Makassar atau arek Suroboyo dekat lift gitu, aku minjem laptopnya si abang itu, dan dikasih. Hoho, update blog lagi deh. Tapi cuma sebentar, akhirnya aku dan kak Christine balik ke kamar dan nonton TV lagi. Nonton Bukan4Mata gitu, dan ada si Tukul yang membahas tentang Jamrud dan Dewi Perssik gitu, seperti biasa aku dan kak Christine ketawa-tawa dibikin ocehan lucu-nya Tukul. Kami berdua ngobrol tentang banyak hal: etnis, keyakinan, prestasi, dan olimpiade. Nggak ngobrolin interview keesokan harinya atau tes TOEFL siang sebelumnya. Haha, santai aja dah, yg pntg udah ngasih yg terbaik, ya nggak? Kira-kira jam 12 malam kami tidur.

~~~~11 Desember 2009~~~

Hari terakhir, aku bangun jam 3, qiyamul lail, tidur lagi, dan bangun jam 5 utk sholat Subuh, habis itu mandi dan packing. Karena dari tempat interview nanti aku dan kak Christ akan langsung ke bandara utk pulang ke Medan. Boarding pass-ku jam 2 siang, dan kak Christine jam 4/5 gitu, tapi kami sepakat untuk berangkat sama aja ke Soekarno-Hatta. Abis packing, kak Christine bangun dan siap-siap juga. Aku ngaji bentar dan sholat Duha juga agar Allah Azza Wa Jalla melancarkan semuanya, amiin… Lalu aku dan kak Christine sarapan bersama orang-orang lainnya, lalu baca koran di lobby. Baru kami naik taxi (kali ini nggak kesasar) dan menuju tempat interview.

Dag..dig..dug.. perasaan nervous muncul pas peserta pertama dipanggil untuk wawancara. Aku dapat giliran ke-3 jam 9.30, dan kami (kira-kira 7) orang berkumpul di library, mencoba menerka-nerka pertanyaan. Akhirnya, peserta dari Malang yg dpt giliran pertama keluar. Dari dia kami tahu kalau interviewers-nya ada 4 orang, 2 orang bule dan 2 orang dari dalam negeri. Ada psikolog dari UI juga katanya. Wew, giliran kedua dipanggil, dan aku nervous. Aku langsung baca suroh Al Falaq 3 kali yg konon bs menghilangkan rasa nervous. Dan, alhamdulillah hilang. Aku semangat bgt mau wawancara. Pokoknya hrs giving my best dah.

Giliranku akhirnya datang juga, berjalan menuju ruang wawancara, dan pintu dibukakan. Dua orang bule  (pria) dan 2 orang (wanita) dari Indonesia. “Hi, sit down please. I’m Mr. bla bla…” dia senyum, aku senyum juga. “Well, I read that you’re born on 1991. How young you are! So tell me why do you choose to take this scholarship?” Yes, a great question. Aku jawab dengan semangat menggebu-gebu. Lalu… pertanyaan demi pertanyaan bergulir, dan santai tuh interviewer-nya. Ada Profesor yang pake tindik di lidahnya (cowok loh), dan dia minum2 kopi pas ngasih pertanyaan. Cool… haha. Semua pertanyaannya keren2 dan jawabanku juga meyakinkan semuanya. Alhamdulillah. Mereka juga nanya who’s my role model? Bill Gates, kataku. Mereka tertawa. You like him because of money, ha? Lalu kami semua tertawa. Wawancaranya santai dan kadang kita tertawa bersama. Mereka juga nanya apakah aku nih masih punya waktu berteman dengan kawan sebaya. Pertanyaannya seru2, pewawancaranya baek2, dan diiringi becanda2 serta ketawa ringan. :D Cool… Jauh dari kesan serius. Setengah jam berlalu, dan sesi terakhir selesai sudah. Kira-kira bertanyaannya sebagai berikut:

  1. Kenapa kamu rasa kamu patut diberi beasiswa ini?
  2. Siapa yg memberi inspirasi untuk anda?
  3. Apa rencana anda 5 tahun ke depan?
  4. Apakah anda berencana membangun perusahaan? (ini khusus untuk saya, krn ada kalimat MSFT saya sebutkan)
  5. Kamu kan masih muda, apa nggak ada waktu bersama teman-teman? (khusus utk saya jg, karena kandidat lainnya berusia 20 tahun hingga 40 tahun. Kayaknya aku (18 thn) deh yg plg muda).
  6. Apa yang kamu lakukan kalau lagi hangout dgn teman2mu? (khusus utk aku jg)
  7. Apa yang ingin anda share-kan mengenai culture anda?
  8. Mengapa anda ingin ke negara kami untuk menuntut ilmu?
  9. Education Background.

Kira-kira itulah pertanyaannya untuk saya. Untuk peserta lain beda-beda, tergantung yg ada di motivation letter kita, dan arah pembicaraan kita. Saya rasa untuk semua sesi ujian + interview di tanggal 10 dan 11 Desember, hasil yang saya dapatkan adalah sebagai berikut:

TOEFL-IPT (December 10th, 2009)

-LISTENING

Result: VERY GOOD

-STRUCTURE

Result: GOOD

-READING

Result: GOOD

INTERVIEW (December 11th, 2009)

Result: EXCELLENT

Mudah-mudahan semua hasil yg aku peroleh bisa diatas rata-rata dan aku bisa memperoleh beasiswa ini. Amiin ya Robbal ‘Alamin.

Sehabis aku, giliran kak Christine. Yang lain pada ngucapin congratz untukku, aku langsung keluar library dan nelpon Umakku yang ternyata sedang berada di Panyabungan dalam rangka membeli kebutuhan saudaraku yang mau menikah hari Minggu. Umakku ber’doa dan mengucapkan selamat juga, insha Allah katanya. Ya, aku langsung ke lantai 2 gedung dan berdo’a kepada Yang Maha Kuasa. Lalu, aku, kak Christine, dan satu orang kk yg dari Malang naik Blue Bird (agak lama nunggunya) menuju Soekarno-Hatta. Sepanjang perjalanan kami berbincang-bincang tentang keluarga Ahmad Dhani, ini gara-gara aku yg mulai. Mereka nanya aku kemana aja, dan aku bilang tragedi di Dufan sehari sebelumnya, dan juga tahun 2007 pas jam 10 malam aku ketemu Maia, Al, El, Dul, dan asistennya di Dufan. Ternyata, teman-teman… Artis Jakarta baru berani ke tempat hiburan semacam Dufan pas jam 10 malam.

Dan sampailah ke Soekarno-Hatta, kami check-in, dan aku langsung nyari tempat makan, KFC ternyata masih jauh dari terminal A1, jadilah aku makan bakso Malang+nasi putih+es kelapa muda. Beli Roti Boy utkku dan oleh2 untuk my bro di Medan nanti. Dan… aku masuk lagi ke bandara, kak Christine ternyata nggak bisa berangkat samaku, jadi kami berpisah. C ya, kak Christine… Aku langsung ke waiting room, sholat menjamak, dan ternyata Lion Air yg akan membawaku di-delay ½ jam, sebel… Akhirnya berangkat juga ke Medan, dpt tmpt duduk di pinggir jendela juga, dan tidur selama perjalanan Jkrt-Medan. Sampe Medan langsung naik taksi dan beli KFC yg hot chilli pepper dekat Petronas di depan Polonia. Sampe di rumah, aku dan my bro makan ayam dan Roti Boy. Abangku nanya-nanya gimana ujiannya dan interviewnya, lalu ayah dan Umakku nelpon dan nanya hal yg sama. Malamnya setelah sholat Maghrib, aku dan abangku ke warnet utk mengajari dia sesuatu, dan makan nasi goreng + cappucino di salah satu warung daerah pasar 7, hoho… Malamnya tidur dengan nyenyak. Ada sms masuk dr teman udah nggak dipeduliin lagi, udah ngantuk beraat… Haha.

Begitulah, dan besoknya aku pulang ke kampung (Kotanopan) naik bus lagi. What a difference! Malamnya naik pesawat, besok malamnya udah naik bus yang penuh sesak penumpang. Inilah hidup, kawan-kawan, kita harus keras terhadap hidup ini agar hidup lembek kepada kita. Hidup ini keras. Kita harus selalu siap menantang dan meliuk, tapi tidak boleh patah (source: Donald Trump). Do’ain aku lolos dan dapetin beasiswa itu ya, teman-teman. Thanks… :) See u…

→ Leave a CommentCategories: Aktivitas · Curhat · Experience
Tagged: , , , , , , , , , ,

From Medan To Jakarta

December 16, 2009 · Leave a Comment

~~~9 Desember 2009~~~

DELAY PESAWAT HAMPIR 4 JAM DI POLONIA

Jam 10 lewat beberapa menit, saya dan Umakku (ibu saya-red) sudah tiba di bandara Polonia. Jam 12.00 WIB adalah jam keberangkatan yang tertera di tiket pesawat. FYI, tiket pesawat pulang pergi Medan-Jakarta serta Jakarta-Medan, akomodasi hotel selama di Jakarta, dan uang saku sebesar Rp. 200.000,00 diberikan secara ‘cuma-cuma’ oleh pihak pemberi beasiswa. Maklumlah, negara yang memberi beasiswa ini adalah negara super power dan kaya yang kelebihan dana. :D *berkhayal: kapan ya Indonesia tercinta akan kaya?

Setelah check-in ternyata saya dapat seat number 23A (kalo g salah), dan yang pastinya di dekat jendela. Yiaiy… hore… hore… karena kalau sendirian di pesawat itu rasanya asing kalau harus duduk di B, C, D, atau E (selain di pinggir jendela). Oh ya nomor pesawat Lion Air-nya kalau tidak salah JT304. Setelah check-in, aku pergi ke domestic embarkation room-nya bandar Polonia lagi. Bertemu Umakku lagi, mencocokkan jam di handphone dengan jam bandara, serta bercengkerama tentang bebagai hal: termasuk pemilihan kepala desa di kampungku. :D Haha… Tidak lama kemudian, abangku (my brother-red) datang dari kampusnya dan bergabung bersama aku dan Umak. Kami bertiga melanjutkan percakapan, barulah kemudian aku menelepon ayah yang ada di Sidimpuan, meminta semangat dan do’a dari beliau, lalu meng-sms Etek Minah (tante Minah-red) untuk meminta do’anya juga. Lalu, beberapa sms dari teman-teman masuk, diantaranya Juanta dan Rahmad. Mereka mendo’akan semoga interview session untuk scholarship ini berhasil. Thanks, friends on your supports. :)

Tak terasa sudah hampir jam 11.30, dan saya langsung meminta diri untuk pergi ke waiting room. Setelah menyalami Umak (diiringi air mata keharuan) dan abang Tael, aku masuk ke ruangan check in lagi. Dari jauh kulihat Umakku masih berlinangan air mata. Hmm… ibu kita memang satu-satunya orang yang paling tahu siapa diri kita, dan ibu kita juga yang tulus mencintai kita tanpa syarat. I love you so much…  much… much, mom. :)

Ketika hendak membayar airport tax yang sudah naik menjadi 35 ribu Rupiah, aku baru sadar kalau satu koper yang aku dorong saat itu harusnya masuk bagasi. Akh, ternyata lupa tadi pas check in. Akhirnya aku antri lagi di tempat check in Lion Air. Tiba-tiba di depanku sudah ada seorang pria dan seorang wanita. Wanita itu tersenyum, dan akupun membalasnya. Sepertinya ada yang salah? Ya, ternyata wanita dan pria itu adalah rekanku dari Medan yang juga lolos untuk sesi wawancara beasiswa di Jakarta. Fiuh, akhirnya kita kenalan di depan counter Lion Air, dan aku segera menambahkan koper sebiji milikku tersebut untuk ditempatkan di bagasi pesawat nantinya. Lega… Aku pun masuk duluan ke antrian untuk pembayaran airport tax untuk selanjutnya menuju waiting room setelah minta izin kepada ke-dua orang rekanku yang sama-sama berasal dari kota Medan.

Sesampainya di waiting room, aku terperangah melihat tumpukan manusia yang demikian banyak. Ada beberapa turis berambut pirang yang juga duduk di atas lantai Polonia, firasatku langsung menangkap ada yang tidak beres. Ternyata benar, dari corong mikrofon waiting room diberitahukan bahwa seluruh pesawat yang berangkat dari pukul 11.00 hingga selanjutnya akan ditunda sampai batas waktu yang belum bisa diperkirakan. Oh My… Mimpi apa aku semalam? Terakhir, karena semua tempat duduk di ruang tunggu bandara Polonia ini sudah penuh, terpaksalah aku ikut duduk di lantai. Hoho… semakin lama semakin banyak saja manusia yang masuk ke waiting room, dan akhirnya hampir seluruh sudut waiting room (termasuk lantai) penuh sesak dengan manusia. Huhu… persis pengungsin bencana alam. Suerr… Walaupun sebalnya setengah mati, aku coba memasang iPod dan membahas-bahas soal TOEFL lagi, karena ujian besoknya adalah TOEFL-ITP dan lusanya barulah interview.

Bosan duduk di lantai, saya pergi ke toilet, dan… ternyata antrinya seperti mau beli tiket pesawat juga. Panjaaaaang…. Fiuh, baru kali ini di Polonia antrian di toilet segini panjangnya. Lalu, aku memutuskan untuk men-jamak saja sholat Dzuhur dan Ashar. Di mushola juga banyak orang, ada yang sholat, membaca Al Qur’an, tidur-tiduran, sampai ada yang tidur beneran. Huhuhu… Seusai sholat aku kembali ke tempat duduk di lantai waiting room, dan ternyata sudah diisi oleh orang lain. Stress melihat orang-orang yang berjibun jumlahnya di waiting room, akhirnya aku kembali ke mushola. Setelah puas makan roti+kerupuk yang dibawa dari rumah, jatah lunch untuk penundaan pesawat belum datang juga. Argghh…. Padahal jam 2 siang perut sudah lapar. SMS dari kak Christine –salah satu kandidat dari Medan- memberitahukan kalau mereka sudah berada di dekat gate 5. Melihat tumpukan orang di waiting room, akhirnya kubatalkan untuk menemui kak Christine dkk. Tak lama kemudian, sms datang dan memberitahukan kalau jatah makan siang untuk kami sudah ada di dekat gate 2. Aku segera kesana dan menemukan kak Christine beserta bang Zulham dan bang Yuri sedang duduk di lantai dekat pintu masuk toilet wanita. Wah… wah… as I told before, semua sudut di ruang tunggu penuh. Aku masuk lagi ke mushola dan menyantap lunch yang berupa bihun dengan sedikit potongan daging sapi kecil-kecil. Untunglah Umakku membungkuskan nasi untukku tadinya di rumah, dan tepat sekali momennya. Akhirnya aku makan pake nasi+bihun jatah dari bandara. Thanks mom, kalau tidak dipaksakan untuk membawa nasi ini, pastilah aku kelaparan sampai di Jakarta nanti. Huhu, I realized that my mom was  the best forever… :)

PERCAKAPAN DENGAN MUSLIMAH LONDON

Setelah sekian lama menunggu, ternyata permintaan maaf lagi yang terdengar dari corong mikrofon bandara. Bosan, akhirnya saya mengambil wudhu lagi, dan membaca Al Qur’an. Lalu, masuklah seorang perempuan berparas India memakai jilbab Turki, baju berlengan panjang dan celana panjang hitam ke mushola. Lalu, perempuan itu sholat (kedua telapak tangan dan telapak kakinya kelihatan) dengan gerakan sholat yang biasa kita lakukan. Dalam hatiku, perempuan ini adalah penganut agama Sikh (campuran Islam-Hindu) yang banyak ditemukan di India, bahkan cabang peribadatannya sudah ada di Tebing Tinggi, prov. Sumut. Selesai sholat, perempuan itu kucegat di pintu mushola. “Kakak ini Sikh ya?” tanyaku. “Could you please speak in English?” katanya. “Sure?” aku bingung juga karena aku pikir dia keturunan India yang tinggal di Medan. “Yes,” katanya sambil tersenyum. Me: “Are you a Sikh?”

Woman: “No. I’m a moslem.” (senyum)

Me: “Oh sorry, but according to your way to do prayer, I guess you’re not. Haha, sorry.”

Woman: “No problem.”

Me: “Hmm… I mean when you’re praying, your hand and foot appear.”

Woman: “Oh it’s okay if you go to Macca…”

Me: “Well, I know. But here, we usually wear this clothes to cover all of forbidden side of woman body.”

Woman: “Yes, I see. But sometimes I wear socks to cover my foot, and gloves too.”
Me: “Oh ya.” (laughing…hahaha…)

Akhirnya kami bercengkerama berdua di dalam mushola. Orang lain yang ada di mushola entah apa yang dikerjakannya. Barulah aku diberitahu bahwa nama perempuan itu Sameer (atau Sameera, nggak tahu jelasnya gimana cara spell-nya :D ), dan dia berkewarganegaraan UK dan orang London asli. Kami berbicara tentang banyak hal. Katanya, Sameer akan terbang ke Aceh untuk melihat keadaan Aceh setelah Tsunami. Dia adalah perwakilan organisasi internasional untuk memantau perkembangan kota-kota berpopulasi muslim di seluruh dunia. Setelah mengunjungi Aceh, dia akan terbang ke Malaysia, dan negara-negara lainnya. Dia bekerja di London pada sebuah kantor administrasi. Oh ya, Sameer juga memberitahukan sejarah keluarganya yang bermigrasi ke London dari India 30-an tahun lampau. Katanya, dari nenek moyangnya, mereka adalah keturunan Arab Saudi yang bermigrasi ke India. Jadi, dari ancestor-ancestornya mereka sudah Islam asli.

Sameer ramah sekali, dan cantik. Umurnya sudah 29 tahun, tapi kelihatan masih seperti 20 tahun. Aku katakan itu padanya, dan dia tertawa dan balas memuji, katanya bahasa Inggrisku bagus. Haha… nggak bener tuh. :D Kami juga bebicara tentang film India. Dia suka sekali katanya menonton film India, dan sudah pernah berfoto bareng SRK (Shah Rukh Khan) di London, dan…. Sameer sudah bertemu dengan Lady Diana sewaktu Sameer masih TK di London. Wah… Sameer juga mengungkapkan kalau di London, populasi muslim sudah banyak, dan warga asli London sudah tidak mempermaslahkan hal ini. Bagus… Oh ya Sameer juga tidak pacaran… *dia yang tinggal di London saja masih bisa mematuhi rambu-rambu paling sepele dari agama Islam, kenapa teman-teman (tidak termasuk saya) yang tinggal di negara berpopulasi muslim terbanyak di dunia ini tidak bisa ya? Ask to yourself first… Ada kejadian lucu sewaktu panggilan untuk penerbangan Mandala Airlines, Sameer berkata seperti ini: “Is that for geureda?” Dan aku melongo: “Excuse me? What?” Sameer: “Is that for geureda?” Aku pusing tujuh keliling. Apa tuh “geureda”? Barulah Sameer membuka tiket pesawatnya, dan aku baru mudeng kalau maksud Sameer itu adalah… GARUDA. Haha, kami tertawa bersama atas misunderstanding yang menggelikan ini. :D

Sameer juga suka buku seri Twilight, dan dia bawa novel New Moon di tas sandangnya. Dia juga bertanya apakah saya jago masak. Tentu saja tidak. Haha… Lalu dia tanya apa aku tidak takut untuk tinggal sendirian di negara lain nanti kalau sudah lolos wawancara beasiswa ini. Tentu saja tidak. Saya jelaskan bahwa selama 3 tahun di Medan juga saya tinggal sendirian, dan tempat tinggal orang tua berjarak 12 jam bus-trip dari Medan. Wah… katanya… Haha… So much conversations happened to us, absolutely the wondeful conversations. But I had to say goodbye to Sammer, cause I’d to meet my friends in waiting room’s floor. Haha, Sameer pun membagikan alamat fb-nya (sialnya saya lupa ejaannya, tapi akan tetap saya coba-coba lagi kok!), dan say farewell to Sameer. “Don’t worry, you’ll meet me again on Facebook. Okay…” dia tersenyum. Muslimah yang baik. :) Allah Bless You, Sameer, I hope one day we’ll meet again. :)

Setelah bergabung dengan kak Christine, bang Zulham, dan bang Yuri, ternyata aku yang paling muda (seperti dugaanku sebelumnya). Bang Zulham dan bang Yuri 25 tahun-an (maybe), dan kak Chrisine baru saja lulus S1 fakultas psikologi Universitas Sumater Utara (USU). Setelah berbincang-bincang, dan ‘mumet’ di waiting room lebih kurang 3 jam, akhirnya satu per satu maskapai penerbangan mulai menerbangkan pesawatnya masing-masing. Barulah aku tahu bahwa yang mengakibatkan semua penerbangan di-delay adalah “ban pesawat Garuda pecah”. Well, hampir jam 4 sore tibalah giliran Lion Air yang akan membawa kami menuju Jakarta, dan aku masuk duluan ke bus pengantar. Berhubung nomor tempat dudukku dengan mereka bertiga sangat jauh jaraknya, jadilah saya terpisah sendiri di pesawat. Untungnya di pinggir jendela pesawat. Jadilah sepanjang perjalanan Medan-Jakarta saya gunakan untuk tidur-tiduran sambil mendengarkan “listening part” dari TOEFL prep. Yang sudah saya convert ke .mp3 beberapa malam sebelumnya. Pas buka mata, ternyata sudah hampir sampai di Soekarno-Hatta. Yiaiy… finally arrived @ Jakarta safely. Alhamdulillah…

PENIPUAN ARGO TAXI BER-MERK CONCORDE

Setelah keluar dari pesawat, bang Zulham menghampiriku dan kami segera menuju tempat pengambilan bagasi. Setelah hampir sejam menunggu, barulah tas-ku ditemukan. Kami berempat kandidat dari Medan: Aku, kak Christine, bang Zulham, dan bang Yuri akhirnya bertemu di terminal A2 (kalo g salah), dan disitu sudah menunggu kerabat bang Yuri. Kami akhirnya memutuskan untuk beli makan malam di A&W. Hoho, harusnya sih restoran Indonesia, tapi apa boleh buat, Cuma A&W yang masih panas menu-menunya. Setelah itu, kami berempat bertanya sambil mempertimbangkan harga taxi mana yang lower. :D Lalu, kerabat bang Yuri menyarankan kami naik taxi tidak resmi bandara, dan kami pun menurutinya. Bang Yuri duduk di depan. Aku, kak Christine dan bang Zulham duduk di belakang. And the tragedy was begun… Tak jauh beda dengan pengalamanku waktu masih magang di Jakarta tahun 2007, dimana kami ditipu oleh taxi sialan ber-plat tak jelas. Ceritanya, tahun 2007 setelah mengantar Eka, Nawi dan Edwin ke Soekarno-Hatta, aku, kak Qori, Uyung, kak Nuy, dan Juanta naik taxi ‘sialan’ yang ternyata ganti supir di tol Cengkareng. Kami ditipu habis-habisan waktu itu. Ternyata uang yang 150 ribu hanya untuk supir pertama, selanjutnya kami harus membayar dari tarif nol lagi si supir pengganti. Benar-benar penipuan.

MUDAH-MUDAH PEMERINTAH KOTA DKI SEGERA MEMBERANTAS SUPIR-SUPIR TAXI BANDARA PENIPU SEPERTI INI SEGERA.

Menuju tol Cengkareng, di suatu tempat pemberhentian, supir taxi tadi keluar. Aku sudah bilang: “pasti ganti supir ini…” Dan ternyata benar. Persis sama. Supir kedua masuk, dan aku langsung protes: “kok ganti sih, mas?” Supir kedua ini sok kalem dan menjawab sekenanya. Ancur lah… Dan ternyata argo-nya per/2 detik bertambah 300 Rupiah. Lengkap sudah penipuan taxi Jakarta. Aku terjatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. L Persis yang di acara-acara kriminalisasi mesin argo taxi yang ditayangkan di TV. Kami langsung mengatur siasat dengan menggunakan bahasa Inggris agar si supir taxi tak bernurani itu nggak ngerti. Bang Zulham bilang kami akan mengadukan ke petugas hotel nanti. Dan berbagai ide pun bermunculan. Kak Christine yang berprofesi sebagai presenter di TV lokal Medan tentu sudah akrab dengan berita penipuan argo taxi semacam ini. Dia merekam angka-angka nggak masuk akal yang berganti setiap 2 detik.

Selama perjalanan, ingin rasanya polisi datang saat itu juga dan menangkap si supir taxi. Tapi, karena mereka ber-3 sudah dewasa, jadilah keputusannya tidak tergopoh-gopoh. Perjalanan Cengkareng-Cikini terasa lama dan gerah, karena hati sudah panas dengan penipuan tak masuk akal ini. Setelah taxi masuk ke daerah tol Grogol, dan Mall Ciputra, Mall Taman Anggrek, Univ. Trisakti, dan SMAK 1 BPK Penabur kelihatan, kami mencoba mengajak bicara supir taxi dengan baik-baik tanpa menyinggung argo nggak masuk akal tersebut. Aku pura-pura tanya berapa sih tiket busway sekarang.

Sampai di hotel, rencana hampir saja dijalankan, ketiga orang rekan saya tersebut masuk ke hotel Alia Cikini dan entah apa yang mereka bicarakan. Akhirnya bang Yuri keluar dan membayar tarif 180 ribu (kurang lebih) kepada supir taxi tersebut. Rencana membongkar kasus penipuan argo taxi tersebut tidak jadi dijalankan. Bang Yuri bilang: “Kita nggak mau ribut.” Ya di satu sisi ada benarnya, kami kan sudah hampir 6 jam stay dari bandara di Medan hingga sampai di Hotel Alia Cikini. Butuh istirahat, bukan perdebatan dengan supir taxi yang pastinya lebih melelahkan fisik dan mental, padahal besok paginya kami harus menuju tempat ujian di daerah Gn. Sahari. Di sisi lain, supir taxi semacam ini yang dengan ‘kurang ajarnya’ memasang penipuan argo perlu dilawan dan ditantang argumen. Karena penipuan seperti ini sangat merugikan dan MENYEBALKAN.

SEKALI LAGI, UNTUK PEMPROV DAN PEMKO DKI TOLONG TAXI PENIPU ARGO SEGERA DILACAK KEBERADAANNYA DAN DIMUSNAHKAN SEGERA DEMI KENYAMANAN RAKYAT INDONESIA YANG BERKUNJUNG KE JAKARTA. SEMOGA ANDA MENDENGARNYA, BAPAK-BAPAK DAN IBU-IBU SEKALIAN…

Saran saya untuk para pelancong di Jakarta, janganlah sekali-kali memakai jasa sewa taxi tidak resmi bandara (apabila anda baru tiba di Soekarno-Hatta). Pakailah jasa taxi resmi bandara, walaupun sedikit lebih mahal. Kedua, apabila anda ingin berkeliling Jakarta, saya hanya sarankan untuk menggunakan jasa Blue Bird, karena lebih terjamin keselamatan dan tarifnya nggak ngaco, meskipun sedikit lebih mahal. Oh ya, taxi penipu yang kami tumpangi dari bandara tersebut masuk dalam kelompok taxi tak resmi bernama “CONCORDE”. Jadi kalau anda melihat taxi dengan bacaan “CONCORDE” tersebut, sebaiknya lapor polisi, biar kena tuh penipu nggak tahu diri. Saya sendiri sudah K.O. menggunakan jasa taxi tidak resmi yang menjanjikan. Alhasil saya selalu tertipu. Pengalaman memang guru terbaik.

HOTEL ALIA CIKINI, JAKARTA PUSAT

Sampai di hotel jam 8 malam (kurang lebih), aku dan kak Christine menempati kamar nomor 306 di lantai 6. Setelah makan malam dengan fried chicken yang dibeli di Soekarno-Hatta, bang Zulham dan bang Yuri datang untuk mendiskusikan cara untuk menuju tempat ujian di daerah Gn. Sahari besoknya. Akhirnya kami sepakat untuk berangkat jam 8 pagi (sehabis breakfast) besok menuju tempat ujian TOEFL-ITP di hari pertama. Setelah itu, aku mandi (air hangat) di bathroom.

Barulah sholat Isya dijamak dengan Maghrib, lalu nonton TV. Kak Christine yang Buddha tempat tidurnya yang agak dekat dengan bathroom, dan aku di dekat jendela agar tidak menggangu kak Christine kalau aku bangun untuk sholat Subuh besoknya. Toleransi yang menyenangkan, bukan? :)

Setelah menonton channel world-star yang ada acara Night Show gitu, lalu ketawa-tawa nonton acara Bukan4 Mata-nya Tukul yg episode tuyul, kuntilanak, dan saudara-saudaranya. Wkwk.. akhirnya aku dan kak Christine tidur dengan selamat. Haha…

→ Leave a CommentCategories: Aktivitas · Curhat · Experience
Tagged: , , , , ,

Wew… it’s not terribly bad

December 10, 2009 · Leave a Comment

Bagaimana ya hasil TOEFL-ITP yg tadi? Mudah2an bagus ya…. I could fill it all, but i was hesitated by my result too… Ternyata lebih dari 70 orang yg lolos utk seleksi ini… Hmm… besok interview nih, mdh2an perfect besok. Amiin

Tadi abis dari TOEFL test, jalan dikit ke busway station yg Setia Budi punya… Lalu ke Mangga Dua sampe pegel nih kaki, mini cam digital-nya tak dapat2… Apalagi aku puasa hari ini, hausss…. Abis pegel kaki langsung ke Dufan. Wew… ternyata hari biasa aja udah rame bgt tuh antrian di Dufan.. Aku barusan nonton New Moon di TIM depan hotel nih. Nggak seru…

Ntar deh nulis lbh lengkap lagi, ni lagi pake laptop anak Suroboyo. C u.. malem…

→ Leave a CommentCategories: Aktivitas

1 jam menuju tempat wawancara

December 10, 2009 · Leave a Comment

Tadi malam akhirnya sampe Medan juga. Jam 12.00 tuh waktu Lion Air terbang menuju Jakarta. Tapi, apa lacur? Garuda mengalami kerusakan roda, terakhir semua maskapai penerbangan dibatalkan keberangkatannya. Jadilah bertumpuk orang-orang di waiting room Polonia. Wadau… setelah penat, pusing, akhirnya terbang juga kira2 jam  jam 16.00 dan sampe Jakarta jam 19.00 kurang lebih. Oh ya selama di Polonia tuh sempat ngomong sama Londoner yg lagi mau ngunjungin Aceh. Dia muslim, keturunan India dan sholatnya nggak pake mukena. But it’s okay lah, kan byk yah mazhab imam… :) Oh ya, orangnya baeeeekkk…. bgt… Mdh2an bahagia lah perjalanannya ke Aceh.

Well, sampe Jakarta tadi malam ya ga ada yg berubah, tetap macet… dan… argo taxi-nya tuh g masuk akal bgt, masak sih per 2 menit tambah 300 Rupiah? Argghh….

Ya sampe hotel, kami yg dari Medan (yang lolos) ada 4 org: 2 org abg2, dan satu org cece (atau cici :P ) dan aku… Kami sampe kamar langsung berembuk kira2 bagaimana cara untuk reach tempat wawancara. Akhirnya kt putuskan utk naik taxi lagi…

Sekarang aku nih nggak sarapan, kan lagi puasa akunya. Mereka lagi pada sarapan. Jd aku pake internetan hotel py yg free of charge. :D Hmm kayaknya bentar lagi kt mau berangkat nih, udah dulu ya… Do’akan mudah2an hari ini dan besok ujiannya lancar2 aja, dan aku dpt nilai tertinggi (amiin). Hari ini TOEFL-IPT dan besok interview (pk English), do’ain aku ya…

Oh ya ntar pulang ujian kan jam 12 siang gitu, jd aku mau ke Mangga Dua beli sesuatu dan ke Dufaaaaannn…. :D Mudah2an gak ada halangan ya…

Bismillahtawakkaltu ‘alalloh lahawla wala quwwata illa billah…

→ Leave a CommentCategories: Aktivitas · Curhat
Tagged: ,

Today is my b’day, tomorrow is my embarkation to Jakarta

December 8, 2009 · Leave a Comment

Hari ini aku ulang tahun yg ke-18… tak terasa sudah tua… hiks…hiks… :(

maunya makin hari makin dewasa, dan makin baik, makin bijaksana, serta makin pinter…semuanya tambah baik lah…

well, besok jam 12.00 aku mau berangkat ke Jakarta (gratis tiket pesawat + akomodasi hotel), dan lusa aku mau tes TOEFL dan interview di kedutaan negara lain. Yup, aku memang udah lulus semua tahap dan interview di Jakarta ini yg terakhir. Mudah2an aku bs lolos ya, dan dapet beasiswanya… DO’ain ya!! Mdh2an di hari ultah ini, semua yg aku bahas utk ujian lusa dan Jum’at bisa menghasilkan nilai sempurna entar…

Okelah, kenapa ya org Indonesia (rata2) selalu bertindak di last seconds? arggh…kayaknya aku jg ikut2an… but, what? what? udahlah, drpd bengong, mending ngelakuin sesuatu meskipun itu telat… hiks…hiks…

udah dulu deh postingan kali ini. Sebenarnya ultah nggak berarti harus dirayakan, dan diucapkan: “Happy b’day ya…”, tapi maknanya jauh lbh tragis: “Berkurangnya jatah hidup”. Tp di facebook dan sms ada beberapa teman (banyak sih) yg ngucapin HBD, makasih ya… maaf, g bs bls satu2…

Hari ini aku ada urusan sama seorang penipu…jadi do’akanlah dia g berhasil menipuku… sebel banget sama ni orang :( argghh…

well, besok jam 12 siang aku akan meninggalkan Medan selama tiga hari menuju Jakarta. Kayaknya sebelum ujian di kedutaan, aku mau ke Mangga DUa dan ke Dufan, Ancol dulu. Udah kangen maen TOrnado… huahuahua…*sst, gk ada yg tau nih rencana aku…

dan,,,,, aku harus bikin usaha maksimal di interview dan TOEFL lusa dan seterusnya. Karena yg interviewernya tuh yg kasih beasiswa, pasti dia byk bgt pertanyaannya, serta TOEFL IPT yg kali ini tuh ya… tahulah… kt mesti py pengalaman dan pembahasan dr jauh2 hari.

Begitulah dulu postingan kali ini.

Happy B’day to Me

May Allah accept all my prayers….amiin ya robbal ‘alamin… Allah, di usia yg 18 thn ini, jadikanlah aku muslimah yang lebih baik lagi di semua urusan dunia, dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat…. akhirnya hanya dengan mengucap satu kata, semua berakhir dengan nikmat: Bismillah…

→ Leave a CommentCategories: Curhat · JustBlogging
Tagged: ,